Diversifikasi Tanaman Tingkatkan Kesejahteraan Petani Kecil

December 21, 2020 by  
Filed under Agrobisnis

Jakarta – Climate Policy Initiative (CPI) meluncurkan laporan terkait penelitiannya di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang menunjukkan program diversifikasi tanaman berpotensi mengurangi risiko usaha dari terjunnya harga jual sawit, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kecil swadaya yang selama ini sepenuhnya bergantung dari perkebunan kelapa sawit.

Laporan berjudul “Membina Ketahanan Ekonomi di Berau Melalui Diversifikasi Tanaman Rakyat” ini merupakan salah satu dari rangkaian penelitian yang dilakukan CPI di Berau sebagai bagian dari Proyek LEOPALD (Low Emission Palm Oil Development) atau “Pengembangan Minyak Sawit Emisi Rendah” yang dilaksanakan CPI bekerjasama dengan Konservasi Alam Nusantara dan GIZ Jerman. Proyek ini bertujuan mendukung kegiatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam menerapkan strategi Kesepakatan Pembangunan Hijau (Green Growth Compact) melalui kegiatan pengembangan minyak kelapa sawit yang lebih berkelanjutan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa bertanam kelapa sawit telah menjadi mata pencaharian utama para petani kecil swadaya (lahan 2-5 hektar) di Berau. Namun, hal itu tidak cukup untuk menutupi biaya hidup minimal mereka. Selain itu, ketergantungan berlebih terhadap perkebunan sawit sebagai sumber penghidupan juga menimbulkan berbagai risiko ekonomi bagi petani seperti fluktuasi harga jual sawit yang tidak stabil, rendahnya produktivitas lahan karena risiko iklim, dan kurangnya modal usaha.

“Kami menemukan bahwa menjual sawit saja tidak cukup untuk menghasilkan pendapatan yang layak bagi petani kecil di Berau dan hanya dapat menghasilkan pengembalian investasi pada tingkat yang jauh di bawah upah minimum di wilayah tersebut,” kata Tiza Mafira, Associate Director CPI Indonesia. Menurut dia, kebun kelapa sawit seluas dua hektar disana hanya menghasilkan pengembalian 439 persen lebih rendah, atau 4.4 kali lipat lebih rendah, dari upah minimum dan pendapatan per kapita kabupaten kabupaten Berau berdasarkan pemodelan keuangan selama 25 tahun.

CPI juga melaporkan, meski Kabupaten Berau telah berhasil menyediakan bahan pangan pokok seperti beras melalui program swasembada, ketergantungan pada kelapa sawit menyebabkan tergerusnya berbagai tanaman pangan dan palawija lainnya seperti cokelat dan lada. Akibatnya, ketahanan pangan di Berau menjadi terancam karena harus mendatangkan tanaman pangan dari daerah lain. Oleh karena itu, menurut CPI, program diversifikasi tanaman menjadi solusi yang tepat untuk menguatkan ketahanan pangan di Kabupaten Berau khususnya.

“Penelitian kami di Kabupaten Berau menunjukkan bahwa jagung adalah tanaman yang paling direkomendasikan untuk diversifikasi perkebunan kelapa sawit karena potensi penghasilan yang tinggi, kesiapan infrastruktur, dan kesenjangan pengetahuan yang rendah. Selain jagung, cokelat juga menjanjikan keuntungan yang besar,” lanjut Tiza. Menurut dia, diversifikasi minyak sawit dengan jagung akan menghasilkan potensi pendapatan hingga 825 persen lebih besar daripada penanaman tunggal. Sementara itu, tanaman cokelat dapat menghasilkan potensi pendapatan hingga 495 persen lebih besar dibandingkan hanya bergantung pada satu tanaman.

Selain itu, diversifikasi tanaman perkebunan dapat membantu Kabupaten Berau mencapai pembangunan berkelanjutan sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi daerah. “Hal ini akan mendongkrak efektivitas penggunaan lahan dan mengurangi sensitivitas petani terhadap ketidakstabilan harga pasar. Di samping itu juga memberikan pendapatan tambahan bagi petani pada awal dan akhir dari siklus kehidupan kelapa sawit, atau ketika produksi turun dan bahkan gagal sama sekali,” lanjut Tiza.

CPI juga merekomendasikan bahwa untuk memastikan arus kas positif, diversifikasi tanaman sebaiknya dimulai selama periode di mana petani menghasilkan pendapatan tunai yang tinggi dari petak kelapa sawitnya. Hal ini karena masa-masa tersebut merupakan waktu yang tepat (bankable) untuk mengakses pinjaman keuangan untuk memodali usaha diversifikasi lahannya.

“Meski begitu, ini harus dilakukan dengan mempertimbangkan konteks lahan milik petani,” ujar Tiza. Jika petani telah sepenuhnya menanami lahannya dengan kelapa sawit, mereka harus menunggu hingga produktivitasnya rendah atau bahkan tidak produktif lagi. Baru kemudian mereka bisa mendiversifikasi dengan tanaman lainnya. Hal ini karena perkebunan kelapa sawit sulit untuk ditumpangsarikan dengan tanaman lain.

Sementara itu, bagi petani yang telah mengalokasikan lahan kosong khusus untuk perkebunan lebih baik segera mulai memanfaatkannya untuk tanaman alternatif, daripada terus menanam kelapa sawit. “Risiko keuangannya akan jauh lebih kecil jika mereka memang memiliki petak perkebunan kosong dan mulai mendiversifikasi tanaman ketika produksi kelapa sawit mencapai puncaknya,” kata Tiza. (*)

Belanja Masa Kini, Berdayakan Petani Lokal, Peduli Protokol Kesehatan

December 20, 2020 by  
Filed under Agrobisnis

SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dan Badan Urusan Logistik (BULOG) memperkenalkan Pasar Tani “Batukar Wayah Ini”, sebuah cara berbelanja di pasar masa kini kepada masyarakat.

Kegiatan dilaksanakan di Halaman Museum Samarinda, Sabtu (19/12/2020) mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WITA. Pasar Tani Samarinda ini dikunjungi Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi, Wakil Walikota Samarinda, M. Barkati dan Kepala KPw Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Tutuk SH Cahyono.

Wakil Walikota Samarinda M. Barkati menyampaikan pentingnya masyarakat mengenal dan mengonsumsi produk pertanian lokal Kaltim. Meskipun bukan daerah produsen bahan pangan utama tetapi tidak mengurangi ragam serta kualitas dari produk lokal. Sementara itu, Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengharapkan kegiatan ini dapat di replikasi di banyak tempat dan diselenggarakan secara rutin sehingga mendorong ekonomi petani, memberi alternatif masyarakat, serta sebagai sarana rekreasi keluarga.

Belanja sesuai protokol Covid-19 menjadi pesan utama penyelenggaraan Pasar Tani ini. Agenda ini juga untuk memperkenalkan komoditas pangan lokal serta mempertemukan langsung petani/produsen dengan masyarakat perkotaan sehingga terdapat ikatan emosional untuk mengonsumsi produk pertanian/produksi lokal dengan harga memadai dan menguntungkan bagi semua.

Pesan lain dalam kegiatan ini adalah dalam rangka meminimalkan disparitas harga komoditas antara harga produsen dan konsumen yang selama ini cukup tinggi dan juga mengantisipasi hari besar keagamaan nasional natal dan tahun baru yang biasanya mengerek naik harga komoditas.

Pandemi Covid-19 telah mengubah pola interaksi masyarakat di banyak aspek kehidupan. Namun demikian, terkadang gaya berbelanja khususnya di pasar tradisional sulit menerapkan protokol Covid-19 sehingga acara ini diharapkan dapat menjadi sebuah contoh bagi masyarakat untuk berbelanja aman dan nyaman.

Antusiasme masyarakat tetap dikontrol melalui sistem antri sebelum masuk ke area berbelanja. Masker menjadi atribut wajib bagi orang dewasa serta faceshield untuk anak – anak. Pengukuran suhu serta pembatasan jumlah orang dalam area berbelanja juga dilakukan sehingga pembeli dan penjual memiliki jarak yang aman dalam berinteraksi, meminimalisir kerumunan. Disamping itu, tidak terdapat penjual makanan siap konsumsi sehingga tidak ada alasan untuk membuka masker. Penerapan protokol Covid-19 tidak menyurutkan semangat berbelanja masyarakat tampak dari omset penjualan pada penyelenggaraan itu yang melebihi Rp 50 Juta.

Mendatangkan sebanyak 11 petani/produsen langsung menjadikan harga yang diperoleh masyarakat lebih murah daripada harga di tingkat pasar pada umumnya. Pada saat yang bersamaan, dengan penjualan langsung kepada masyarakat menjadikan petani dapat menjual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan biasanya. Terkait komoditas yang dijual mayoritas merupakan hasil produksi lokal petani Kaltim. Banyak diantaranya baru dipanen satu hari sebelum acara sehingga lebih segar dan bernutrisi bagi masyarakat. (*)

Desa, Api-Api Layak Jadi Sentra Sawo

December 4, 2020 by  
Filed under Agrobisnis

WARU – Perjalanan darat dari Pelabuhan ferry menuju Tanah Grogot atau Banjarmasin akan melewati pusat sawo satu-satunya di Kalimantan Timur, yaitu tepatnya di Desa Api-Api Kecamatan Waru Kabupaten Penajam Pasir Utara.

Desa Api-api yang merupakan satu satu desa di Kecamatan Waru yang memiliki 3 desa dan satu kelurahan, antara lain desa Api-Api, Bangun Mulyo, Sesulu dan Kelurahan Waru. Salah satu desanya yaitu Desa Api-Api boleh dikata sebagai sentra penghasil buah sawo. Warganya cukup banyak yang budidaya tanaman sawo.

Untung Suhanda

Untung Suhanda (36) salah satu warga Desa Api-api pembudidaya tanaman sawo saat ditemui vivaborneo di kiosnya 30 November 2020 lalu mengatakan di desa Api-Api terdapat 30 KK yang mengusahakan budidaya Sawo. Masing-masing KK memiliki puluhan buah sawo yang setiap saat bisa panen.

“Di desa kami buah sawo tidak ada putusnya. Kami sering menggelar dagangan di kios-kios pinggir jalan. Ciri desa Api-Api apabila dipinggir jalan Trans Kalimantan dijumpai kios-kios penjual sawo, atau jika dari pelabuhan ferry Penajam Paser Utara sekitar 28 km pasti akan menjuampai kios-kios sawo yang berderat”, terang Untung.

Untung yang merupakan warga Asli Api-Api ini dalam setiap hari tidak kurang dari 20 kg panen Sawo. “Rata-rata kami jual Rp10.000 per kilonya untuk sawo yang kecil. Jika sawo itu besar kami jual Rp20.000 perkilonya, jika sedang Rp15.000”, jelasnya.

Pohon sawo yang ada di Api-Api ini rata-rata cangkokan, dan baru berbuah setelah usia 5 tahun. “Alhamdulillah dari pohon yang ada rata-rata dalam satu pohon setiap panen bisa menghasilkan 100 kg buah sawo”, ucap Untung Suganda didampingi istrinya, Sartini.

Kendala yang sering dihadapi apabila panen raya, terpaksa harus jual ke tengkulak dengan harga murah. “Kalau tengkulak yang ambil jika sawo kecil hanya Rp5.000 perkgnya, dan jika besar Rp10.000/kg nya. Mau tidak mau harus kami jual, karena jika diecer di kios pinggir jalan penyerapannya masih kurang, karena panen melimpah”, jelasnya.

Untung sangat berharap ada dari pihak pemerintah setempat bisa memberi perhatian kepada para petani  buah Sawo ini. “Selama ini tidak ada perhatian sama sekali dari Pemerintah terhadap kami para petani Sawo. Seandainya ada saja, minimal pada saat buah sawo panen raya ada penampungan yang bisa menyalurkan buah sawo dengan harga yang standar, tidak murah seperti tengkulak yang ambil, akan sangat membantu para petani sawo”, harapnya.

Sartini, istri Untung yang berasal dari Selayar Sulawesi Selatan ini setiap hari membantu suami berjualan sawo. “Kalau suami saya biasa memetik buah sawo, saya yang mensortirnya, mana yang kecil, sedang, dan besar. Setelah dipanen terus diperam dulu, agar sawo menjadi matang siap dimakan, paling tiga hari sawo sudah matang dan siap dijual di kiosnya”, jelasnya.

Seandainya buah sawo ini ada pihak-pihak yang mencarikan terobosan pasar, jadi tidak hanya pasar lokal di Api-Api saja, tetapi bisa dikirim ke Balikpapan atau Samarinda, apalagi bisa meysuplai pasar-pasar modern seperti pasar swalayan tentu akan bisa menambah tingkat kesejahteraan dari Petani Sawo, harap Sartini. (nk-01)

Lidi Nipah Kaltim Ekspor ke India

December 4, 2020 by  
Filed under Agrobisnis

SAMARINDA – Komoditas asal Kaltim yang juga akan menjadi bagian dari rencana pelepasan ekspor produk Indonesia bernilai tambah dan sustainable ke pasar global oleh Presiden RI Joko Widodo secara hybrid Jumat (4/12/2020) adalah lidi nipah.

“Ini perdana, lidi nipah dari Kaltim akan diekspor ke India,” sebut Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Perindagkop) dan UKM Kaltim HM Yadi Robyan Noor, Kamis (3/12/2020).

Menurut Roby, potensi pengembangan usaha nipah ini masih sangat terbuka di Kaltim. Apalagi nipah adalah tanaman yang mudah dikembangkan di sebagian wilayah Kaltim, khususnya di kawasan pesisir.

Tumbuhan dengan nama latin nypa fruticans itu umumnya hidup di sekitar hutan bakau (mangrove). Pengembangan ini pun akan sangat sejalan dengan program Kaltim untuk menurunkan emisi gas karbon dunia dalam program FCPF Carbon Fund yang belum lama ini telah ditandatangani   kesepakatan pembayaran pengurangan emisinya (Emission Reductions Payment Agreement/ERPA) oleh Kementerian KLHK dan FCPF-CF bersama World Bank di Jakarta.

“Untuk pertama kali ini, kita akan ekspor lidi nipah ke India sebanyak satu kontainer dengan nilai USD 408.000,” ungkap mantan Kepala Biro Humas Setda Provinsi Kaltim itu.

Roby menjelaskan, di negara tujuannya India, lidi nipah ini akan digunakan sebagai campuran bahan pembuatan asbes dan bisa pula dimanfaatkan sebagai lapisan dasar karpet.

“Untuk potensi pengembangan nipah ini sudah tersedia lahan yang bisa dimanfaatkan seluas 30.000 hektar di kawasan Delta Mahakam. Dan saat ini baru dimanfaatkan sekitar 50 hektar,” sebut Roby.

Pengembangan nipah ini jelas Roby akan memberikan banyak keuntungan bagi peningkatan ekonomi masyarakat, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Nipah mudah tumbuh di muara sungai. Keuntungannya, lidi nipah bisa diambil untuk ekspor, sementara daun nipahnya potensial dijual untuk mendukung bahan baku pembuatan ketupat dan kerajinan anyaman. Pucuk nipah yang sudah dipotong akan tumbuh dengan dua tunas baru dalam waktu tiga bulan sehingga akan menghasilkan daun yang lebih banyak.

Pelaku UKM yang menjajaki bisnis lidi nipah untuk ekspor ini adalah CV Masagenah. (samsul/vivaborneo.com)

Labanan Serius Kembangkan Semangka

November 25, 2020 by  
Filed under Agrobisnis, Berau

TELUK BAYUR – Melihat banyaknya potensi lahan yang belum dimanfaatkan, Kampung Labanan Makmur, Kecamatan Teluk Bayur, fokus mengembangkan buah semangka. Sebagai langkah awal, lahan yang digunakan adalah lahan kas desa yang sebelumnya hanya berupa semak belukar.

“Alhamdulillah, ternyata hasilnya bagus. Kami sudah berhasil melakukan panen semangka pekan lalu,” sebut Kepala Kampung Labanan Makmur Mupit Datusahlan, (25/11/2020).

Dikatakan, dari diskusi yang panjang, kelembagaan desa juga memiliki keluhan dan keterbatasan. Sebagai contoh, dana RT, LPM dan BPK kampung terbatas, hanya dari sumber alokasi dana desa (ADK).

“Kami berpikir, bagaimana kegiatan kemasyarakatan di desa bisa didukung maksimal oleh kelembagaan, kalau mereka juga memiliki hambatan?” tanyanya.

Alhasil disepakati, tanah kas desa dikelola. Supaya berhasil, disepakati juga harus menggunakan teknologi, agar perawatan semangka ini menjadi mudah, ramah lingkungan, bisa menyerap bahan kompos lokal dan memiliki hasil baik.

“Tercetuslah ide untuk membangun kebun semangka ini,” ujarnya.

Kebun semangka itu dikelola oleh ketua RT se-Labanan Makmur dan didampingi sekertaris kampung. “Kebetulan mereka memiliki sedikit pengetahuan tentang kegiatan berkebun semangka,” tambah Mupit.

Hasilnya, kini kebun itu menjadi wadah berkumpul, berkegiatan formal seperti rapat. Bahkan banyak ide dan gagasan baru dilahirkan dari kegiatan berkebun bersama ini.

Hingga saat ini, setidaknya sudah 5 ton semangka yang berhasil dipanen dari kebun ini. Meski baru pertama kali panen dengan usia tanam 3 bulan, setidaknya sudah bisa memberikan harapan pada warga untuk dicoba dan ditiru. Sehingga bukan tidak mungkin Labanan Makmur bisa menjadi sentra penghasil semangka di Berau. (vb1)

Next Page »