Wakil Ketua DPRD Samarinda Sebut Komoditas Perkebunan Karet Perlu Dikembangkan

April 8, 2021 by  
Filed under Agrobisnis

SAMARINDA – Wakil Wali Kota Samarinda, Rusmadi bersama Wakil Ketua DPRD Samarinda, Subandi melakukan kunjungan kerja ke Kelurahan Bantuas, Kecamatan Palaran untuk bertemu dengan para petani karet.

Rusmadi menyampaikan dukungannya terhadap para petani karet, sawit dan padi untuk memperbanyak komoditas pertanian di Samarinda dengan kualitas dan kuantitas produksi dan harga jual yang baik.

“Ayo kita pelihara kualitas karet di Kaltim yang dikenal bersihnya, khususnya di Kelurahan Bantuas ini. Merk ternama dunia mengakui kualitas karet di negara kita. Semoga produk dari Bantuas termasuk di dalamnya,” ujar Rusmadi, Senin (5/4/2021).

Sementara itu, Subandi selaku Wakil Ketua DPRD Samarinda menyebutkan, perkembangan komoditas pertanian semakin meningkat. Dia mengapresiasi para petani khususnya komoditas karet untuk terus bersemangat bertani.

Selain itu, dia melihat infrastruktur jalan menuju perkebunan karet dan termasuk akses jalan utama berbagai komoditas pertanian perlu ditata dan diperbaiki.

“Kita harus mendukung para petani dengan fasilitas akses jalan yang memadai dan berbagai kebutuhan pertanian lainnya misalkan peralatan dan pupuk,” ujar Subandi.

“Saya Pemkot Samarinda terus mendukung para petani agar kegiatan pertanian terus meningkat sehingga komoditas di Samarinda tidak hanya mengandalkan pertambangan saja namun pertanian juga menjadi potensi ekonomi masyarakat Samarinda yang harus dikembangkan,” tutupnya. (man)

BUMDes di PPU Konsultasi Pengembangan Hidroponik

March 24, 2021 by  
Filed under Agrobisnis

Penajam – BUMDes Karya Mandiri di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim, berkonsultasi ke Tim Program Pembangunan Pemberdayaan Kelurahan dan Perdesaan Mandiri (P2KPM) untuk rencana pengembangan usaha hidroponik.

“Kami sudah menjalankan unit usaha hidroponik di desa kami dan kewalahan melayani permintaan pasar, makanya kami perlu konsultasi untuk rencana pengembangan usahanya,” ujar Direktur BUMDes Karya Mandiri Herly First Ayu Octavera di Penajam, Selasa (23/3/2021)

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karya Mandiri ini berada di Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku. Akhir 2020 BUMDes tersebut memperoleh keuntungan Rp61,17 juta dari tiga unit usaha selain hidroponik.

Dari keuntungan sebesar itu, pengeluarannya adalah untuk operasional sebesar Rp12,23 juta, setoran PADes sebesar Rp14,68 juta, penambahan modal usaha Rp9,78 juta, untuk pengurus dan pegawai BUMDes Rp21,04 juta, dan untuk dana sosial Rp978,77 ribu.

Semenjak mulai Januari 2021, lanjut Herly, BUMDes Karya Mandiri menambahkan satu unit usaha baru berupa hidroponik. Screen house hidroponik tersebut dibangun Desember 2020 dan langsung beroperasi sehingga pada Januari sudah panen dan langsung dipasarkan.

Sejak panen perdana pada Januari hingga panen ketiga Maret tahun ini, permintaan pasar cukup tinggi sehingga satu unit screen house yang dikelola oleh BUMDes tersebut kewalahan melayani permintaan pembeli.

Direktur BUMDes Karya Mandiri, Desa Wonosari, Herly First Ayu Octavera

“Untuk itu kami hari ini berkonsultasi dengan Tim Teknis Program P2KPM PPU dalam rangka mengembangkan unit screen house, karena tahun ini ada alokasi bantuan keuangan untuk BUMDes melalui Program P2KPM yang sifatnya kompetisi,” ujarnya.

Herly melanjutkan bahwa pihaknya berencana mengajukan tambahan usaha hidroponik sebesar Rp100 juta. Dari modal sebesar ini, berdasar hitungannya dalam 28 bulan bisa kembali modal, sehingga bulan selanjutnya adalah mengejar keuntungan.

Sementara Tenaga Teknis Bidang Pengembangan Ekonomi Program P2KPM Kabupaten PPU Imam Subarkah mengatakan, dari layanan konsultasi yang ia lakukan untuk BUMDes Karya Mandiri, sudah ada gambaran tentang kondisi terkini unit usaha yang berjalan dan rencana pengembangannya.

“Namun demikian, masih ada perencanaan yang akan dituangkan dalam proposal pengajuan pengembangan usaha yang belum matang, jadi saya tadi minta dimatangkan dulu supaya saya bisa membaca rute usaha sampai memperoleh keuntungan,” kata Imam. (**)

Wakil Walikota Samarinda Panen Cabe di Simpang Pasir

March 23, 2021 by  
Filed under Agrobisnis

SAMARINDA. Wakil Wali Kota Samarinda Rusmadi melakukan panen cabai kelompok tani Karya Mandiri Kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Senin (21/3/2021). Cabe yang dipanen ditanam di tanah seluas 20×60 meter milik pribadi dari kelompok Tani Karya Mandiri.

Rusmadi menyampaikan, walaupun Samarinda sebagai kota jasa dan perindustrian, pertanian terus berjalan. Karena ia meminta lahan pertanian yang produktif tetap terus dijaga

“Jangan berganti beton atau peruntukan lainnya,” tegas Rusmadi.

Ia mengaku merasa senang dan bahagia bisa bersama-sama memanen cabai. Ia berharap petani lainnya bisa juga ikut menanam jenis seperti ini.

“Khusus cabe mestinya harus menjadi gerakan bagi kita. Terlebih Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan. Apalagi menjelang puasa,” kata Rusmadi yang pernah menjabat Dekan Fakultas Pertanian Unmul.

Menurutnya ini penting, karena cabe merupakan komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi. Saat ini komoditas cabe, ayam potong, bawang putih, bawang merah masih didatangkan dari luar daerah.

“Padahal kita masih ada lahan-lahan luas. Kalau masih mendatangkan dari luar berarti Dinas terkait tidak maksimal bekerja,” imbuh ketua IKA Unmul Fakultas Pertanian.

Rusmadi meminta Fakultas Pertanian agar dibangun pilot project bersama Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan.

Apresiasi juga disampaikan anggota DPRD Samarinda Laila Fatihah dan Jasno.

“Sebagai anggota dari Dapil Palaran, Samarinda Seberang dan Loa Janan Ilir, yang mana merupakan kawasan pertanian. Mulai dari periode sebelumnya kami selalu komitmen mensupport melalui dukungan penganggaran. Tentunya kami bangga kalau pertanian di sini terus maju dan petani sejahtera,” ungkap Laila yang juga dari Komisi II.

Ia berjanji akan mensupport melalui Pokirnya. Namun ia meminta komitmen petani agar bantuan tidak terus menerus, tapi sampai bisa mandiri.

Jasno pun mendukung program 100 hari kerja termasuk di program pertanian. Namun diharapkannya semangat terus.Ia juga meminta agar Dinas Pertanian terus hadir bersama petani. (*/adv)

Kelompok Tani Loa Duri Ilir Terima Bantuan 1.500 Bibit Nilam

February 25, 2021 by  
Filed under Agrobisnis

SAMARINDA – Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kaltim M Syirajudin menyerahkan bantuan 1.500 bibit nilam bagi Kelompok Tani Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Iyad sapaan akram M Syirajudin menyerahkan bantuan didampingi Kepala Seksi Pengembangan Kapasitas Masyarakat Helvin Syahruddin, di lokasi program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, Desa Loa Duri Ilir, Selasa (24/2/2021).

Dikatakan penyerahan bantuan dalam rangka mendukung pemberdayaan masyarakat melalui kelompok tani untuk pengembangkan tanaman nilam.

“Bantuan bibit sifatnya bantuan lunak pola simpan pinjam bibit. Jadi kelompok tani mengembangkan tanaman nilam untuk diproduski menjadi minyak atsiri,” ujar Iyad.

Menurutnya, tugas kelompok tani hanya bertanggung jawab memastikan tanaman nilam tumbuh dengan baik. Sedangkan proses penyulingannya akan dibantu dengan melibatklan investor menyiapkan pabrik penyulingannya. Kuncinya asalkan Loa Duri Iris bisa menanam 10 ribu bibit. Jadi kita memberi bibit, petani kasih minyak atsirinya,”timpalnya.

Bila sudah berjalan dan berhasil, kelompok tani Loa Duri Ilir kemudian menyerahkan bantuan bibit yang sudah dipinjamkan untuk kelompok tani baru laiinya. Dilakukan dengan system simpan pinjam bibit agar kelompok tani memiliki tanggung jawab memastikan tanaman nilamnya tumbuh dan berkembang.

“Semoga bisa berhasi. Kita berharap Desa Loa Duri Ilir menjadi sentra budidaya nilam di Kaltim. Terlebih informasinya beberapa dusun di Desa Loa Duri Ilir akan negosiasi memanfaatkan lahan eks tambang sebagai lokasi budidaya nilam,”katanya.

Sebagai pendukung, Desa Loa Duri Ilir diminta mengalokasikan dana untuk peningkatan kapasitas SDM bagi kelompok tani dalam budi daya nilam. “Saya siap hadir langsung membuka kegiatan tersebut jika dilaksanakan,”yakinnya.

Kepala Desa Loa Duri Ilir Fakhri Arsyad mengamini. Dia mengaku sedang negosiasi dengan perusahan pemilik lahan untuk memanfaatkan lahan eks tambah membudayakan nilam. Diantaranya Dusun Budaya Putak yang memiliki lokasi paling luas.

“Secara inisiatif kita menyangupi penanaman nilam. Lahan eks tambah saja mencapai 50 hektare. Belum lagi lahan milik warga. Kemungkinan potensinya ratusan hectare,”yakinnya didampingi Sekretaris Desa Loa Duri Ilir dan Kepala Dusun Putak.

Pada kesempatan itu Iyad Bersama jajaran menyempatkan melihat lokasi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat bidang perikanan, perkebunan, pembuatan pakan, bank sampah, peternakan, dan persiapan agro dan wisata bantuan program kepedulian sosial CSR perusahaan tambang beroperasi di wilayah sekitar.

Iyad menijau pengolahan pakan, peternakan itik, budidaya ikan lele sangkuriang, budidaya madu kelulut, serta pengolahan bank sampah. Dia juga menyempatkan diri menyantap madu kelulut langsung dari sarangnya.(AM)

Diversifikasi Tanaman Tingkatkan Kesejahteraan Petani Kecil

December 21, 2020 by  
Filed under Agrobisnis

Jakarta – Climate Policy Initiative (CPI) meluncurkan laporan terkait penelitiannya di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang menunjukkan program diversifikasi tanaman berpotensi mengurangi risiko usaha dari terjunnya harga jual sawit, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kecil swadaya yang selama ini sepenuhnya bergantung dari perkebunan kelapa sawit.

Laporan berjudul “Membina Ketahanan Ekonomi di Berau Melalui Diversifikasi Tanaman Rakyat” ini merupakan salah satu dari rangkaian penelitian yang dilakukan CPI di Berau sebagai bagian dari Proyek LEOPALD (Low Emission Palm Oil Development) atau “Pengembangan Minyak Sawit Emisi Rendah” yang dilaksanakan CPI bekerjasama dengan Konservasi Alam Nusantara dan GIZ Jerman. Proyek ini bertujuan mendukung kegiatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam menerapkan strategi Kesepakatan Pembangunan Hijau (Green Growth Compact) melalui kegiatan pengembangan minyak kelapa sawit yang lebih berkelanjutan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa bertanam kelapa sawit telah menjadi mata pencaharian utama para petani kecil swadaya (lahan 2-5 hektar) di Berau. Namun, hal itu tidak cukup untuk menutupi biaya hidup minimal mereka. Selain itu, ketergantungan berlebih terhadap perkebunan sawit sebagai sumber penghidupan juga menimbulkan berbagai risiko ekonomi bagi petani seperti fluktuasi harga jual sawit yang tidak stabil, rendahnya produktivitas lahan karena risiko iklim, dan kurangnya modal usaha.

“Kami menemukan bahwa menjual sawit saja tidak cukup untuk menghasilkan pendapatan yang layak bagi petani kecil di Berau dan hanya dapat menghasilkan pengembalian investasi pada tingkat yang jauh di bawah upah minimum di wilayah tersebut,” kata Tiza Mafira, Associate Director CPI Indonesia. Menurut dia, kebun kelapa sawit seluas dua hektar disana hanya menghasilkan pengembalian 439 persen lebih rendah, atau 4.4 kali lipat lebih rendah, dari upah minimum dan pendapatan per kapita kabupaten kabupaten Berau berdasarkan pemodelan keuangan selama 25 tahun.

CPI juga melaporkan, meski Kabupaten Berau telah berhasil menyediakan bahan pangan pokok seperti beras melalui program swasembada, ketergantungan pada kelapa sawit menyebabkan tergerusnya berbagai tanaman pangan dan palawija lainnya seperti cokelat dan lada. Akibatnya, ketahanan pangan di Berau menjadi terancam karena harus mendatangkan tanaman pangan dari daerah lain. Oleh karena itu, menurut CPI, program diversifikasi tanaman menjadi solusi yang tepat untuk menguatkan ketahanan pangan di Kabupaten Berau khususnya.

“Penelitian kami di Kabupaten Berau menunjukkan bahwa jagung adalah tanaman yang paling direkomendasikan untuk diversifikasi perkebunan kelapa sawit karena potensi penghasilan yang tinggi, kesiapan infrastruktur, dan kesenjangan pengetahuan yang rendah. Selain jagung, cokelat juga menjanjikan keuntungan yang besar,” lanjut Tiza. Menurut dia, diversifikasi minyak sawit dengan jagung akan menghasilkan potensi pendapatan hingga 825 persen lebih besar daripada penanaman tunggal. Sementara itu, tanaman cokelat dapat menghasilkan potensi pendapatan hingga 495 persen lebih besar dibandingkan hanya bergantung pada satu tanaman.

Selain itu, diversifikasi tanaman perkebunan dapat membantu Kabupaten Berau mencapai pembangunan berkelanjutan sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi daerah. “Hal ini akan mendongkrak efektivitas penggunaan lahan dan mengurangi sensitivitas petani terhadap ketidakstabilan harga pasar. Di samping itu juga memberikan pendapatan tambahan bagi petani pada awal dan akhir dari siklus kehidupan kelapa sawit, atau ketika produksi turun dan bahkan gagal sama sekali,” lanjut Tiza.

CPI juga merekomendasikan bahwa untuk memastikan arus kas positif, diversifikasi tanaman sebaiknya dimulai selama periode di mana petani menghasilkan pendapatan tunai yang tinggi dari petak kelapa sawitnya. Hal ini karena masa-masa tersebut merupakan waktu yang tepat (bankable) untuk mengakses pinjaman keuangan untuk memodali usaha diversifikasi lahannya.

“Meski begitu, ini harus dilakukan dengan mempertimbangkan konteks lahan milik petani,” ujar Tiza. Jika petani telah sepenuhnya menanami lahannya dengan kelapa sawit, mereka harus menunggu hingga produktivitasnya rendah atau bahkan tidak produktif lagi. Baru kemudian mereka bisa mendiversifikasi dengan tanaman lainnya. Hal ini karena perkebunan kelapa sawit sulit untuk ditumpangsarikan dengan tanaman lain.

Sementara itu, bagi petani yang telah mengalokasikan lahan kosong khusus untuk perkebunan lebih baik segera mulai memanfaatkannya untuk tanaman alternatif, daripada terus menanam kelapa sawit. “Risiko keuangannya akan jauh lebih kecil jika mereka memang memiliki petak perkebunan kosong dan mulai mendiversifikasi tanaman ketika produksi kelapa sawit mencapai puncaknya,” kata Tiza. (*)

Next Page »